Selasa, 17 Juni 2014

denaturasi protein

PRAKTIKUM II.3

Topik                   : Denaturasi Protein
Tujuan                :Untuk mempelajari proses denaturasi protein pada berbagai  sumber albumin.
Hari/ Tanggal       : Jumat/ 1 Mei 2014
Tempat                : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin
 


I.              ALAT DAN BAHAN
a. Alat :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung reaksi
3.      Pipet tetes
4.      Gelas ukur 10 ml
5.      Water bath
b. Bahan :
1.         Larutan albumin (telur ayam ras, telur ayam kampung, telur itik pantai, telur itik tambak, dan telur puyuh).
2.         Buffer asetat pH 4,8 (1 M)
3.         HCl 0,1 M
4.         NaOH 0,1 M
5.         Air

II.           CARA KERJA
1.      Menyiapkan tabung reaksi dengan urutan sebagai berikut :
Tabung
1
2
3
Larutan albumin
9 ml
9 ml
9 ml
Buffer asetat pH 4,8 (1 M)
-
-
1 ml
HCl 0,1 M
1 ml
-
-
NaOH 0,1 M
-
1 ml
-

2.         Memasukan masing-masing 9 ml albumin kedalam tabung reaksi dan amati perubahannya.
3.         Menempatkan ketiga tabung dalam air mendidih selama 15 menit dan mendinginkan pada temperatur kamar. Memperhatikan tabung mana yang larutannya mengendap.
4.         Menambahkan 10 ml bufer asetat pH 4,8 untuk tabung- tabung 1 dan 2.
5.         Menuliskan hasilnya.

III.        TEORI DASAR
Protein mempunyai molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asam-asam amino. Protein dan asam amino dalam larutan mempunyai pH isoelektronik, yaitu suatu harga pH dimana derajat kelarutannya paling kecil. Dalam keadaan normal protein mempunyai bentuk molekul konfigurasi tertentu berdasarkan pada lipatan serta ikatan disulfa dan ikatan hidrogen yang ada.
Oleh pengaruh panas, radiasi, pH serta zat-zat kimia tertentu, struktur protein tadi dapat berubah, meskipun susunan asam aminonya masih tetap dan perubahan tadi disebut denaturasi. Biasanya proses denaturasi adalah bolak-balik, kalau keadaan sudah normal kembali, protein dapat kembali ke bentuk semula. Kalau perubahan tadi berupa gumpalan, maka tidak dapat kembali ke bentuk semula.
Denaturasi juga bisa diartikan dengan larutnya protein yang akan merubah fisik protein yang menyebabkan juga kehilangan sifat kelarutannya. Suatu rantai protein biasanya mengacu pada suatu biopolymer dengan berat molekul lebih besar dari beberapa ribu. Tiap protein mempunyai urutan sisa asam amino tertentu dalam rantainya, yang sebagian besar menentukan sifat-sifat biologis dan fisiokimianya. Beberapa protein juga dapat larut dalam air, seperti keratin rambut dan kulit tidak dapat larut dalam semua sistem berair.
Banyak protein telah pecah dan dimurnikan berdasarkan atas ukuran molekul dan kelrutannya. Proses denaturasi yang terjadi itu dapat terjadi oleh banyak bahan. Termasuk di dalamnya adalah panas dan bahan kimia yang merusak ikatan hidrogen dalam protein tersebut.
Terdapat banyaknya konformasi antara asli molekul protein dan konformasi dimana protein ada dalam keadaan rambang semurna meruang. Pada konformasi terakhir ini, protein dikatakan mengalami denaturasi sempurna. Akan tetapi, terjadinya keadaan rambang sempurna rantai protein tidak harus berarti hilangnya fungsi biologis. Fungsi biologis memiliki aktivitas maksimum pada keadaan aslinya, dan suatu perubahan dalam struktur yang menyebabkan hilangnya fungsi alami protein tersebut.


















IV.        HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
1. Dengan menggunakan larutan Albumin dan HCl 0,1 M

No.

Bahan
Tabung
Awal
Akhir
(+) Buffer
1.
Telur itik pantai

Bening keruh, terdapat gumpalan, denaturasi tidak sempurna
Putih susu, terdenaturasi sempurna
Heterogen, atas bening, bawah putih susu
2.

Telur itik tambak
Putih keruh, berbusa, bergumpal, homogen
Putih susu, beku, berbusa, homogen
Putih bening, homogen, gumpalan sedikit hancur
3.
Telur puyuh
Putih keruh, sedikit menggumpal, denaturasi tidak sempurna
putih susu, denaturasi sempurna
Heterogen, denaturasi tidak sempurna
4.
Telur ayam kampung
Putih keruh, denaturasi tidak sempurna, ada gumpalan
Putih susu, denaturasi sempurna
Heterogen, denaturasi tidak sempurna
5.
Telur penyu
Putih kekuningan, denaturasi tidak sempurna, sedikit menggumpal
Putih keruh, menggumpal, denaturasi tidak sempurna
Putih keruh, menggumpal heterogen




2. Dengan menggunakan larutan Albumin dan NaOH 0,1 M

No.

Bahan
Tabung
Awal
Akhir
(+) Buffer
1.

Telur itik pantai
Atas putih bening, bawah putih keruh, terdenaturasi tidak sempurna
Atas bening, bawah putih susu, tidak terdenaturasi sempurna
Heterogen, atas putih bening, tengah bening kekuningan bergelembung, bawah putih susu
2.

Telur itik tambak
Putih keruh, sedikit menggumpal, denaturasi tidak sempurna
Putih susu, denaturasi sempurna
Heterogen, denaturasi tidak sempurna
3.
Telur puyuh
Putih kekuningan, ada gumpalan sedikit, denaturasi tidak sempurna
Putih tulang, berbuih, denaturasi sempurna
Heterogen, denaturasi tidak sempurna
4.
Telur ayam kampung
Agak keruh
Putih  susu, koloid
Homogen, putih susu
5.
Telur penyu
Menggumpal, denturasi tidak sempurna
Denaturasi tidak sempurna
heterogen







3. Dengan menggunakan larutan Albumin dan Buffer Asetat pH 4,8 (1 M)

No.

Bahan
Tabung
Awal
Akhir
1.
Telur itik pantai

Putih keruh, terdenaturasi tidak sempurna
Putih susu, terdenaturasi tidak sempurna
2.

Telur itik tambak
Bening keruh, sedikit menggumpal
Putih susu, denaturasi tidak sempurna
3.
Telur puyuh
Putih kekuningan, ada sedikit gumpalan, denaturasi tidak sempurna
Putih susu, berbuih, denaturasi sempurna,
4.
Telur ayam kampung
Menggumpal, denaturasi tidak sempurna
Denaturasi sempurna
5.
Telur penyu
Putih keruh, menggumpal, denaturasi tidak sempurna
Putih keruh, gumpalan diatas, denaturasi semurna









B. Gambar  Pengamatan
1. Sebelum dipanaskan
Rounded Rectangle:  a. Telur ayam kampung








                            Dokumen Pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  b. Telur penyu








                      Dokumen Pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  c. Telur Itik Pantai







                      Dokumen Pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  d. Telur puyuh







                      Dokumen Pribadi. 2014

2. Sesudah Dipanaskan
Rounded Rectangle:  a. Telur ayam kampung








                            Dokumen Pribadi. 2014
     b. Telur penyu
Rounded Rectangle:
 









                             Dokumen Pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  c. Telur puyuh








                      Dokumen Pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  d. Telur Itik pantai







                                   
                                        Dokumen pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  e. Telur Itik tambak








                        Dokumen pribadi. 2014

3. Setelah Ditetesi Buffer Asetat
Rounded Rectangle:                     a. Telur puyuh








                        Dokumen pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  b. Telur itik tambak







                        Dokumen pribadi. 2014
Rounded Rectangle:  c. Telur ayam kampung








                      Dokumen pribadi. 2014

d. Telur itik pantai
Rounded Rectangle:   








                  Dokumen pribadi. 2014

V.      ANALISIS DATA
          Dari hasil pengamatan tentang denaturasi protein yang menggunakan  macam jenis telur puyuh, telur itik pantai, telur penyu, telur itik tambak, dan telur ayam kampong dengan menggunakan larutan HCl, NaOH dan buffer asetat.
A. Larutan Telur + HCl 0,1 M
     Pada tabung pertama dengan menggunakan bahan berupa putih telur yang ditetesi larutan HCl 0,1 M. Pada percobaan pertama yang masing-masing putih telur yang berada pada tabung reaksi masing-masing ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, setelah dikocok hasil yang didapatkan sebelum dan sesudah dipanaskan serta setelah ditetesi buffer asetat adalah sebagai berikut:
1. Telur Puyuh + HCl 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan, maka setelah larutan telur puyuh ditetesi HCl sebanyak 1 ml warnanya menjadi bening keruh dan terdapat sedikit gumpalan. Hal tersebut menunjukan bahwa larutan ini tidak terdenaturasi secara sempurna. Kemudian setelah ditetesi HCl, larutan dipanaskan dengan menggunakan waterbad, maka terjadilah erubahan warna pada larutan yaitu menjadi putih susu dan terdapat buih. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi sempurna ketika suhunya dinaikan. Setelah didinginkan larutan kembai ditetesi dengan larutan sebanyak 1 ml yaitu untuk menguji kekuatan denaturasi yang telah terjadi. Perubahan yang terjadi setelah ditetesi buffer asetat, larutan menjadi heterogen dan tidak menyatu, hal tersebut berarti larutan telur puyuh ini tidak terdenaturasi secara sempurna.
2. Telur Itik Pantai + HCl 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan, maka setelah ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml,warna pada larutan menjadi purih bening dan terdapat gumpalan serta terdapat sedikit endapan. Hal ini menunjukan bahwa larutan ini mengalami denaturasi sempurna. Setelah dipanaskan menggunakan waterbad selama 10 menit, maka larutan mengalami perunahan menjadi warna putih susu dan mengalami denaturasi sempurna. Setelah didinginkan larutan kembali ditetesi dengan larutan buffer asetat sebanyak 1 ml dan perubahan yang terjadi pada larutan yaitu menjadi heterogen, bagian atas larutan berwarna putih bening dan bagian bawahnya berwarna putih susu. Hal ini menunjukan bahwa larutan ini mengalami denaturasi yang sempurna.
3. Telur Penyu + HCl 0,1 M
     Berdasakan pengamatan yang dilakukan, maka setelah ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, arna pada larutan berubah menjadi putih bening dan menggumpal. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian larutan yang telah ditetesi HCl dipanaskan selam 10 menit dengan menggunakan alat wterbad, maka perubahan warna yang terjadi yaitu warna larutan berubah menjadi putih keruh dan menggumpal. Hal ini menunjukan bahwa larutan terdenaturasi ecara tidak sempurna. Kemudian larutan kembali ditetesi dengan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka pda larutan tetap tidak terjadi perubahan, yaitu warnanya tetap putih keruh dan terdapat gumpalan, akan tetapi larutan menjadi tidak homogeny atau tidak menyatu, Hal ini menunjukan bahwa larutan ini mengalami denturasi yang tidak sempurna.
4. Telur Itik Tambak + HCl 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan, setelah larutan telur itik tambak ditetesi dengan HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, maka warna pada larutan yaitu putih keruh dan terdapat sedikitgumpalan. Hal itu menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan dengan menggunakan waterbad selam 10 menit, maka larutan berubah warna menjadi putih keruh dan itu membuktikan bahwa larutan ini mengalami denaturasi yang sempurna. Kemudian, larutan kembali ditetesi laruran buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan tidak menyatu atau heterogen dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
5. Telur Ayam Kmpung + HCl 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan , setelah larutan telur ayam kampung ditetesi dengan HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, terjadi penggumpalan pada larutan dan berarti larutanini mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Setelah dipanaskan dengan menggunakan alat berupa waterbad larutan mengalami denaturasi yang sempurna. Kemudian larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat maka larutan menjadi heterogen atau tidak menyatu. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
          Pada percobaan yang menggunakan zat tambahan berupa asam kuat (HCl) 0,1 M sebanyak 1 ml, apabial dilihat dari menyatunya larutan (homogen) dan dari gumpalan yang terjadi setelah pemanasan, hamper semua larutan albumin terdenaturasi sempurna kecuali pada larutan albumin telur penyu. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh suhu sehingga denaturasi dapat berjalan secara sempurna. Denaturasi yang sempurna terjadi apabila gumpalan (koagulasi) pda larutan semakin merata yang dikarenakan komfirmasi molekul protein dapat berubah karena adanya suhu yang tinggi dan pengaruh pH, sehingga apabila di dalam suatu larutan tidak banyak mengandung larutan, maka pada larutan tersebut tidak terjadi gumpalan secara merata.
          Sedangkan tujuan adanya penambahan buffer asetat adalah untuk menguji kekuatan denaturasi yang telah terjadi. Apabila setelah ditambahkan buffer asetat, bagian atas larutan uji tersebut akan berwarna merah maka larutan tersebut tidak terdenaturasi sempurna. Dan apabila bagian atas larutan berwarna bening, maka larutan tedenaturasi secara sempurna.

B. Larutan Telur + NaOH 0,1 M
          Pada percobaan kedua dengan menggunakan larutan abumin berupa telur-teluran yang ditetesi larutan basa kuat berupa NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml. Setelah kocok hasil yang didapatkan sebelum dan sesudah dipanaskan serta setelah ditetesi buffer asetat adalah sebagai berikut:
1. Telur Puyuh + NaOH 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan menggunakan telur puyuh yang ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan berwarna putih kekuningan dan terdapat sedikit gumpalan. Hal ini berarti larutan mengakami denaturasi yang tidak sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan dengan alat berupa waterbad selama 10 menit, maka larutan mengalami denaturasi yang sempurna. Kemudian larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan menjadi heterogen dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
2. Telur Itik Pantai + NaOH 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur itik pantai yang ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan memiliki warna pada bagian atasnya yaitu putih bening dan bagian bawahnya berwarna putih keruh atau dengan kata lain larutan ini tidak menyatu atau heterogen. Hal ini berarti larutan tidak mengalami denaturasi yang sempurna. Sedangkan setelah larutan dpanaskan dengan menggunakan alat berupa waterbad selam 10 menit maka larutan mengalami perubahan warna yaitu menjadi bening dan bagian bawahnya menjadi putih susu. Hal ini berarti larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian setelah larutan didinginkan dan ditetesi larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml,maka larutan tetap tidak menyatu (heterogen) dan warna pada larutan yaitu bagian atasnya berwarna putih bening, bagian bawahnya berwarna bening kekuningan, dan bagian bawahnya berwarna putih susu, hal itu berarti menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
3. Telur Penyu + NaOH 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan menggunakan telur penu yang ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan berwarna putih bening dan terdapat gumpalan. Hal ini berarti larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Sedangkan setelah di panaskan selama 10 menit dengan menggunakan waterbad maka warna larutan menjadi putih keruh, trdapat gumpalan, dan mengalami denaturasi tidak sempurna. Kemudian setelah larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan tetap tidak terjadi perubahan yaitu tetap berwarna putih keruh  terdapat gumpalan dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian setelah larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan tetap tidak terjadi perubahan yaitu tetap berwarna putih keruh dan terdapat gumpalan. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
4. Telur Itik Tambak + NaOH 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakkan dengan menggunakan telur itik tambak yang ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml pada larutan , maka warna pada larutan menjadi putih keruh dan terdapat sedikit gumpalan. Hal ini berarti larutan mengalami denaturasi tidak sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad larutan menjadi berwarna puih susu, homogen, dan mengalami denaturasi sempurna. Kemudian setelah ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1ml larutan menjadi heterogen dan mengalami denaturasi tidak sempurna.
5. Telur Ayam Kampung + NaOH 0,1 M
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur ayam kampong yang ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml pada larutan, maka warna pada larutan yang bening, menggumpal dan tidak terdenaturasi secara sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad, larutan tetap mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian setelah larutan didinginkan dan ditetesi dengan lrutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, larutan bersifat heterogen atau tudak menyatu.
          Pada percobaan kedua dengan menggunakan zat tambahan berupa basa kuat (NaOH) dengan konsentrasi 0,1 M sebanyak 1 ml pada berbagai larutan albumin. Penambahan basa kuat berupa NaOH menyebabkan perubahan bentuk molekul protein karena konsentrasi OH- yang tinggi mampu menjadi ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3.

C. Larutan Telur + Buffer Asetat pH 4,7
          Pada percobaan ketiga dengan menggunakan bahan berupa larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml pada larutan albumin tanpa adanya perubahan zat kimia selain buffer asetat seperti pada percobaan 1 dan percobaan 2. Adapun pada hasil pengamatan diketahui bahwa pada penambahan buffer asetat sebelum dipanaskan, semua bahan albumin mengalami perubahan yang berbeda dan dapat dilihat sebagai berikut:


1. Telur Puyuh + Buffer Asetat ph 4,7
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur puyuh yang ditetes dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan berwarna putih kekuningan, terdapat sedikit gumpalan dan terdenaturasi secara tidak sempurna. Sedangkan setelah larutan dipanaskan selama 10 menit menggunakan waterbad maka terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi putih susu dan berbuih. Hal ni menunjukan bahwa pada larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
2. Telur Itik Pantai + Buffer Asetat pH 4,7
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur itik pantai yang ditetesi dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebnyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan berwarna putih keruh dan terdenaturasi secara tidak sempurna. Sedangkan setelah larutan dipanaskan selama 10 menit menggunakan waterbad maka terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi putih susu. Hal ini menunjukan bahwa pada larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
3. Telur penyu + Buffer Asetat pH 4,7
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur penyu yang ditetesi dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml. Sebelum di panaskan larutan berwarna putih keruh, terdapat gumpalan, dan mengalami denaturasi tidak sempurna. Setelah larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad maka warna pada larutan tetap putih keruh, tetapi gumpalannya berada diatas.hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
4. Telur Itik Tambak + Buffer Asetat pH 4,7
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telut itik tambak yang ditetesi dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan berwarna bening keruh, terdapat sedikit gumpalan, dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Setelah larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad maka terjadi perubahan pada larutan yaitu warnanya berubah menjadi putih susu dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
5. Telur Ayam Kampung + Buffer Asetat pH 4,7
     Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur ayam kampung yang ditetesi dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml. Sebelum dipanaskan, larutan mengalami penggumpalan dan terdenaturasi secara tidak sempurna. Namun, setelah larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad  maka larutan mengalami proses denaturasi sempurna.
          Pada percobaan ketiga dengan menggunakan larutan tambahan berupa asam lemah yaitu buffer asetat yang berfungsi untuk mengetahui apakah suatu larutan terdenaturasi secara sempurna atau tidak, yang dengan cara melihat gumpalan (koagulasi) yang terjdi semakin merata gumpalan yang terjadi, menandakan bahwa larutan mengalami denaturasi yang sempurna.

          Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, maka proses denaturasi kadang-kadang dapat berlangsung secara reversible, dan kadang-kadang tidak. Penggumpalan protein biasanya didahului oleh proses denaturasi yang berlangsung dengan baik pada titik isolistrik protein tersebut. Protein akan mengalami koagulasi apabila larutan protein berbeda pada titik isolistiknya, Pada albumin telur , pH isolistriknya berkisar antara 4,55-4.90.
          Molekul yang besar atau molekul yang makro apabila dilarutkan dalam air mempunyai sifat koloid, yaitu tidak dapat menembus membrane atau kertas perkamen, tetapi tidak cukup besar sehingga tidak dapat mengendap secara alami. Protein mempunyai molekul besar dan karenanya larutan protein bersifat koloid. Disamping itu, protein juga sensitive terhadap asam dan basa dengan konsentrasi yang tinggi, seperti halnya yang digunakan dalam prcobaan yaitu HCl, NaOH, dan buffer asetat.
          Terjadinya denaturasi pada larutan albumin dalam percobaan disebabkan pleh beberapa faktor, yaitu:
1. suhu tinggi, yang diakibatkan oleh pemanasan.
2. Suasana larutan (asam/basa), yaitu terjadinya perubahan ph.
3. Adanya pengaruh mekanik, seperti guncangan.
          Faktor-faktor itulah yang membuat larutan albumin terdenaturasi. Sedangan pada tubuh kita, enzim adalah suatu protein yang mempunyai aktivtas biokimia yang dipengaruhi oleh suhu dan ph. Apabila ada ion-ion logam berat masuk kedalam tubuh, maka akan bereaksi dengan protein dan adan terjadi gumpalan (koagulasi) yang menyebabkan keracunan.



















VI.    KESIMPULAN
1.        Denaturasi protein adalah suatu perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, terseir dan kuarterner molekul protein tanpa terjadinya pemecahan-pemecahan ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi hidropobik, ikatan garam dan terbentuknya atau terbukanya lipatan molekul protein.
2.        Denaturasi dapat disebabkan karena adanya pengaruh atau perubahan pH, suhu, soven organic, garam mekanik, alcohol, aseton, ion logam berat, radiasi sinar radio aktif, eter dan oksigen.
3.        Pemanasan menyebabkan perubahan fisik protein dengan terbentuknya gumpalan yang menyebabkan juga kehilangan sifat/ fungsi sebagai protein.
4.        Dari kelima larutan albumin yang digunakan, hamper terdenaturasi sempurna ketika dipanaskan.
5.        Penyebab larutan albumin yang mengalami denaturasi tidak sempurna adalah karena tingkat kandungan albumin yang terdapat dalam larutan tersebut.
6.        Denaturasi protein yang terjadi di dalam tubuh dapat mengakibatkan berkurangnya aktivitas biokimia protein dalam tubuh dan dapat menyebabkan tubuh mengalami keracunan.










VII. DAFTAR PUSTAKA
Arbianto, Purwo.1993. Biokimia Konsep-Konsep Dasar. Bandung: Depdikbud.

Noorhidayati dan Hardiansyah.2014. Penuntun Praktikum Biokimia. Banjarmasin: FKIP UNLAM.

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.



























LAMPIRAN

Jawaban Pertannyaan:
1.    Sifat fisik protein yang mempengaruhi kelarutan dari protein dalam percobaan ini adalah enaturasi dan viskositas. Denaturasi yang terjadi pada tiap larutan berbeda satu dengan yang lainnya karena tergantung pada struktur protein yang ada pada setiap larutan. Viskositas juga mempengaruhi yaitu dari segi jenis protein yang digunakan.
2.    Metode lain yang digunakan untuk denaturasi protein adalah dengam melarutkan protein dalam air. Di dalam air, m dan akan bermutan negative dalam suasana bprotein yang larut akan membentuk ion yang bermuatan positif dalam suasana basa.
3.    Perubahan kimia yang berhubungan dengan denatures telur yaitu adanya perubahan struktur dan konfigurasi protein.