PRAKTIKUM II.3
Topik : Denaturasi Protein
Tujuan
:Untuk mempelajari proses denaturasi protein pada
berbagai sumber albumin.
Hari/ Tanggal : Jumat/ 1 Mei 2014
Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA
FKIP UNLAM Banjarmasin
I.
ALAT
DAN BAHAN
a.
Alat :
1.
Tabung
reaksi
2.
Rak
tabung reaksi
3.
Pipet
tetes
4.
Gelas
ukur 10 ml
5.
Water bath
b.
Bahan :
1.
Larutan
albumin (telur ayam ras, telur ayam kampung, telur itik pantai, telur itik
tambak, dan telur puyuh).
2.
Buffer
asetat pH 4,8 (1 M)
3.
HCl
0,1 M
4.
NaOH
0,1 M
5.
Air
II.
CARA
KERJA
1.
Menyiapkan
tabung reaksi dengan urutan sebagai berikut :
|
Tabung
|
1
|
2
|
3
|
|
Larutan
albumin
|
9 ml
|
9 ml
|
9 ml
|
|
Buffer asetat
pH 4,8 (1 M)
|
-
|
-
|
1 ml
|
|
HCl 0,1 M
|
1 ml
|
-
|
-
|
|
NaOH 0,1 M
|
-
|
1 ml
|
-
|
2.
Memasukan
masing-masing 9 ml albumin kedalam tabung reaksi dan amati perubahannya.
3.
Menempatkan
ketiga tabung dalam air mendidih selama 15 menit dan mendinginkan pada
temperatur kamar. Memperhatikan tabung mana yang larutannya mengendap.
4.
Menambahkan
10 ml bufer asetat pH 4,8 untuk tabung- tabung 1 dan 2.
5.
Menuliskan
hasilnya.
III.
TEORI
DASAR
Protein mempunyai
molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan
cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asam-asam
amino. Protein dan asam amino dalam larutan mempunyai pH isoelektronik, yaitu
suatu harga pH dimana derajat kelarutannya paling kecil. Dalam keadaan normal
protein mempunyai bentuk molekul konfigurasi tertentu berdasarkan pada lipatan
serta ikatan disulfa dan ikatan hidrogen yang ada.
Oleh pengaruh
panas, radiasi, pH serta zat-zat kimia tertentu, struktur protein tadi dapat
berubah, meskipun susunan asam aminonya masih tetap dan perubahan tadi disebut
denaturasi. Biasanya proses denaturasi adalah bolak-balik, kalau keadaan sudah
normal kembali, protein dapat kembali ke bentuk semula. Kalau perubahan tadi
berupa gumpalan, maka tidak dapat kembali ke bentuk semula.
Denaturasi juga
bisa diartikan dengan larutnya protein yang akan merubah fisik protein yang
menyebabkan juga kehilangan sifat kelarutannya. Suatu rantai protein biasanya
mengacu pada suatu biopolymer dengan berat molekul lebih besar dari beberapa
ribu. Tiap protein mempunyai urutan sisa asam amino tertentu dalam rantainya,
yang sebagian besar menentukan sifat-sifat biologis dan fisiokimianya. Beberapa
protein juga dapat larut dalam air, seperti keratin rambut dan kulit tidak
dapat larut dalam semua sistem berair.
Banyak protein
telah pecah dan dimurnikan berdasarkan atas ukuran molekul dan kelrutannya.
Proses denaturasi yang terjadi itu dapat terjadi oleh banyak bahan. Termasuk di
dalamnya adalah panas dan bahan kimia yang merusak ikatan hidrogen dalam
protein tersebut.
Terdapat banyaknya
konformasi antara asli molekul protein dan konformasi dimana protein ada dalam
keadaan rambang semurna meruang. Pada konformasi terakhir ini, protein
dikatakan mengalami denaturasi sempurna. Akan tetapi, terjadinya keadaan
rambang sempurna rantai protein tidak harus berarti hilangnya fungsi biologis.
Fungsi biologis memiliki aktivitas maksimum pada keadaan aslinya, dan suatu perubahan
dalam struktur yang menyebabkan hilangnya fungsi alami protein tersebut.
IV.
HASIL
PENGAMATAN
A.
Tabel Pengamatan
1. Dengan menggunakan larutan
Albumin dan HCl 0,1 M
|
No.
|
Bahan
|
Tabung
|
||
|
Awal
|
Akhir
|
(+) Buffer
|
||
|
1.
|
Telur itik pantai
|
Bening keruh, terdapat
gumpalan, denaturasi tidak sempurna
|
Putih susu, terdenaturasi
sempurna
|
Heterogen, atas bening, bawah
putih susu
|
|
2.
|
Telur itik tambak
|
Putih keruh, berbusa,
bergumpal, homogen
|
Putih susu, beku, berbusa,
homogen
|
Putih bening, homogen, gumpalan
sedikit hancur
|
|
3.
|
Telur puyuh
|
Putih keruh, sedikit
menggumpal, denaturasi tidak sempurna
|
putih susu, denaturasi sempurna
|
Heterogen, denaturasi tidak
sempurna
|
|
4.
|
Telur ayam kampung
|
Putih keruh, denaturasi tidak
sempurna, ada gumpalan
|
Putih susu, denaturasi sempurna
|
Heterogen, denaturasi tidak
sempurna
|
|
5.
|
Telur penyu
|
Putih kekuningan, denaturasi
tidak sempurna, sedikit menggumpal
|
Putih keruh, menggumpal,
denaturasi tidak sempurna
|
Putih keruh, menggumpal
heterogen
|
2.
Dengan menggunakan larutan Albumin dan NaOH 0,1 M
|
No.
|
Bahan
|
Tabung
|
||
|
Awal
|
Akhir
|
(+) Buffer
|
||
|
1.
|
Telur itik pantai
|
Atas putih bening, bawah putih
keruh, terdenaturasi tidak sempurna
|
Atas bening, bawah putih susu,
tidak terdenaturasi sempurna
|
Heterogen, atas putih bening,
tengah bening kekuningan bergelembung, bawah putih susu
|
|
2.
|
Telur itik tambak
|
Putih keruh, sedikit
menggumpal, denaturasi tidak sempurna
|
Putih susu, denaturasi sempurna
|
Heterogen, denaturasi tidak
sempurna
|
|
3.
|
Telur puyuh
|
Putih kekuningan, ada gumpalan sedikit,
denaturasi tidak sempurna
|
Putih tulang, berbuih,
denaturasi sempurna
|
Heterogen, denaturasi tidak
sempurna
|
|
4.
|
Telur ayam kampung
|
Agak keruh
|
Putih susu, koloid
|
Homogen, putih susu
|
|
5.
|
Telur penyu
|
Menggumpal, denturasi tidak
sempurna
|
Denaturasi tidak sempurna
|
heterogen
|
3.
Dengan menggunakan larutan Albumin dan Buffer Asetat pH
4,8 (1 M)
|
No.
|
Bahan
|
Tabung
|
|
|
Awal
|
Akhir
|
||
|
1.
|
Telur itik pantai
|
Putih keruh, terdenaturasi
tidak sempurna
|
Putih susu, terdenaturasi tidak
sempurna
|
|
2.
|
Telur itik tambak
|
Bening keruh, sedikit
menggumpal
|
Putih susu, denaturasi tidak
sempurna
|
|
3.
|
Telur puyuh
|
Putih kekuningan, ada sedikit
gumpalan, denaturasi tidak sempurna
|
Putih susu, berbuih, denaturasi
sempurna,
|
|
4.
|
Telur ayam kampung
|
Menggumpal, denaturasi tidak
sempurna
|
Denaturasi sempurna
|
|
5.
|
Telur penyu
|
Putih keruh, menggumpal,
denaturasi tidak sempurna
|
Putih keruh, gumpalan diatas,
denaturasi semurna
|
B. Gambar Pengamatan
1. Sebelum dipanaskan
a. Telur ayam kampung
Dokumen Pribadi. 2014
b. Telur penyu
Dokumen Pribadi. 2014
c. Telur Itik Pantai
Dokumen Pribadi. 2014
d. Telur puyuh
Dokumen Pribadi. 2014
2. Sesudah
Dipanaskan
a. Telur ayam kampung
Dokumen Pribadi. 2014
b. Telur penyu
![]() |
Dokumen
Pribadi. 2014
c. Telur puyuh
Dokumen Pribadi. 2014
d. Telur Itik pantai
Dokumen pribadi. 2014
e. Telur Itik tambak
Dokumen pribadi. 2014
3. Setelah Ditetesi Buffer Asetat
a. Telur puyuh
Dokumen pribadi. 2014
b. Telur itik tambak
Dokumen pribadi. 2014
c. Telur ayam kampung
Dokumen
pribadi. 2014
d. Telur
itik pantai
Dokumen pribadi. 2014
V. ANALISIS DATA
Dari
hasil pengamatan tentang denaturasi protein yang menggunakan macam jenis telur puyuh, telur itik pantai,
telur penyu, telur itik tambak, dan telur ayam kampong dengan menggunakan
larutan HCl, NaOH dan buffer asetat.
A.
Larutan Telur + HCl 0,1 M
Pada
tabung pertama dengan menggunakan bahan berupa putih telur yang ditetesi
larutan HCl 0,1 M. Pada percobaan pertama yang masing-masing putih telur yang
berada pada tabung reaksi masing-masing ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml,
setelah dikocok hasil yang didapatkan sebelum dan sesudah dipanaskan serta
setelah ditetesi buffer asetat adalah sebagai berikut:
1.
Telur Puyuh + HCl 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, maka setelah larutan telur puyuh ditetesi HCl
sebanyak 1 ml warnanya menjadi bening keruh dan terdapat sedikit gumpalan. Hal
tersebut menunjukan bahwa larutan ini tidak terdenaturasi secara sempurna.
Kemudian setelah ditetesi HCl, larutan dipanaskan dengan menggunakan waterbad,
maka terjadilah erubahan warna pada larutan yaitu menjadi putih susu dan
terdapat buih. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi sempurna
ketika suhunya dinaikan. Setelah didinginkan larutan kembai ditetesi dengan
larutan sebanyak 1 ml yaitu untuk menguji kekuatan denaturasi yang telah
terjadi. Perubahan yang terjadi setelah ditetesi buffer asetat, larutan menjadi
heterogen dan tidak menyatu, hal tersebut berarti larutan telur puyuh ini tidak
terdenaturasi secara sempurna.
2. Telur Itik Pantai + HCl 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, maka setelah ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml,warna
pada larutan menjadi purih bening dan terdapat gumpalan serta terdapat sedikit
endapan. Hal ini menunjukan bahwa larutan ini mengalami denaturasi sempurna.
Setelah dipanaskan menggunakan waterbad selama 10 menit, maka larutan mengalami
perunahan menjadi warna putih susu dan mengalami denaturasi sempurna. Setelah
didinginkan larutan kembali ditetesi dengan larutan buffer asetat sebanyak 1 ml
dan perubahan yang terjadi pada larutan yaitu menjadi heterogen, bagian atas
larutan berwarna putih bening dan bagian bawahnya berwarna putih susu. Hal ini
menunjukan bahwa larutan ini mengalami denaturasi yang sempurna.
3. Telur Penyu + HCl 0,1 M
Berdasakan
pengamatan yang dilakukan, maka setelah ditetesi HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, arna
pada larutan berubah menjadi putih bening dan menggumpal. Hal ini menunjukan
bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian larutan yang
telah ditetesi HCl dipanaskan selam 10 menit dengan menggunakan alat wterbad,
maka perubahan warna yang terjadi yaitu warna larutan berubah menjadi putih
keruh dan menggumpal. Hal ini menunjukan bahwa larutan terdenaturasi ecara
tidak sempurna. Kemudian larutan kembali ditetesi dengan buffer asetat dengan
pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka pda larutan tetap tidak terjadi perubahan, yaitu
warnanya tetap putih keruh dan terdapat gumpalan, akan tetapi larutan menjadi
tidak homogeny atau tidak menyatu, Hal ini menunjukan bahwa larutan ini
mengalami denturasi yang tidak sempurna.
4. Telur Itik Tambak + HCl 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, setelah larutan telur itik tambak ditetesi dengan HCl
0,1 M sebanyak 1 ml, maka warna pada larutan yaitu putih keruh dan terdapat
sedikitgumpalan. Hal itu menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang
tidak sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan dengan menggunakan waterbad selam
10 menit, maka larutan berubah warna menjadi putih keruh dan itu membuktikan
bahwa larutan ini mengalami denaturasi yang sempurna. Kemudian, larutan kembali
ditetesi laruran buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan tidak
menyatu atau heterogen dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
5.
Telur Ayam Kmpung + HCl 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan , setelah larutan telur ayam kampung ditetesi dengan
HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, terjadi penggumpalan pada larutan dan berarti
larutanini mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Setelah dipanaskan dengan
menggunakan alat berupa waterbad larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
Kemudian larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat maka larutan menjadi
heterogen atau tidak menyatu. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami
denaturasi yang tidak sempurna.
Pada percobaan yang menggunakan zat
tambahan berupa asam kuat (HCl) 0,1 M sebanyak 1 ml, apabial dilihat dari
menyatunya larutan (homogen) dan dari gumpalan yang terjadi setelah pemanasan,
hamper semua larutan albumin terdenaturasi sempurna kecuali pada larutan
albumin telur penyu. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh suhu sehingga
denaturasi dapat berjalan secara sempurna. Denaturasi yang sempurna terjadi
apabila gumpalan (koagulasi) pda larutan semakin merata yang dikarenakan
komfirmasi molekul protein dapat berubah karena adanya suhu yang tinggi dan
pengaruh pH, sehingga apabila di dalam suatu larutan tidak banyak mengandung
larutan, maka pada larutan tersebut tidak terjadi gumpalan secara merata.
Sedangkan tujuan adanya penambahan
buffer asetat adalah untuk menguji kekuatan denaturasi yang telah terjadi.
Apabila setelah ditambahkan buffer asetat, bagian atas larutan uji tersebut
akan berwarna merah maka larutan tersebut tidak terdenaturasi sempurna. Dan
apabila bagian atas larutan berwarna bening, maka larutan tedenaturasi secara
sempurna.
B. Larutan Telur
+ NaOH 0,1 M
Pada
percobaan kedua dengan menggunakan larutan abumin berupa telur-teluran yang
ditetesi larutan basa kuat berupa NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml. Setelah kocok hasil
yang didapatkan sebelum dan sesudah dipanaskan serta setelah ditetesi buffer
asetat adalah sebagai berikut:
1. Telur Puyuh +
NaOH 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan menggunakan telur puyuh yang ditetesi dengan larutan
NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan berwarna putih kekuningan dan terdapat
sedikit gumpalan. Hal ini berarti larutan mengakami denaturasi yang tidak
sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan dengan alat berupa waterbad selama 10
menit, maka larutan mengalami denaturasi yang sempurna. Kemudian larutan
ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan
menjadi heterogen dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
2.
Telur Itik Pantai + NaOH 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur itik pantai yang ditetesi
dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan memiliki warna pada
bagian atasnya yaitu putih bening dan bagian bawahnya berwarna putih keruh atau
dengan kata lain larutan ini tidak menyatu atau heterogen. Hal ini berarti
larutan tidak mengalami denaturasi yang sempurna. Sedangkan setelah larutan
dpanaskan dengan menggunakan alat berupa waterbad selam 10 menit maka larutan
mengalami perubahan warna yaitu menjadi bening dan bagian bawahnya menjadi
putih susu. Hal ini berarti larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
Kemudian setelah larutan didinginkan dan ditetesi larutan buffer asetat dengan
pH 4,7 sebanyak 1 ml,maka larutan tetap tidak menyatu (heterogen) dan warna
pada larutan yaitu bagian atasnya berwarna putih bening, bagian bawahnya
berwarna bening kekuningan, dan bagian bawahnya berwarna putih susu, hal itu
berarti menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
3. Telur Penyu + NaOH 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan menggunakan telur penu yang ditetesi dengan larutan
NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml, maka larutan berwarna putih bening dan terdapat
gumpalan. Hal ini berarti larutan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
Sedangkan setelah di panaskan selama 10 menit dengan menggunakan waterbad maka
warna larutan menjadi putih keruh, trdapat gumpalan, dan mengalami denaturasi
tidak sempurna. Kemudian setelah larutan ditetesi dengan larutan buffer asetat
dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan tetap tidak terjadi perubahan yaitu
tetap berwarna putih keruh terdapat
gumpalan dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian setelah larutan
ditetesi dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1 ml, maka larutan
tetap tidak terjadi perubahan yaitu tetap berwarna putih keruh dan terdapat
gumpalan. Hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang tidak
sempurna.
4.
Telur Itik Tambak + NaOH 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakkan dengan menggunakan telur itik tambak yang ditetesi
dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml pada larutan , maka warna pada larutan
menjadi putih keruh dan terdapat sedikit gumpalan. Hal ini berarti larutan
mengalami denaturasi tidak sempurna. Sedangkan setelah dipanaskan selama 10
menit dengan menggunakan alat berupa waterbad larutan menjadi berwarna puih
susu, homogen, dan mengalami denaturasi sempurna. Kemudian setelah ditetesi
dengan larutan buffer asetat dengan pH 4,7 sebanyak 1ml larutan menjadi
heterogen dan mengalami denaturasi tidak sempurna.
5.
Telur Ayam Kampung + NaOH 0,1 M
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur ayam kampong yang ditetesi
dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1 ml pada larutan, maka warna pada larutan
yang bening, menggumpal dan tidak terdenaturasi secara sempurna. Sedangkan
setelah dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad,
larutan tetap mengalami denaturasi yang tidak sempurna. Kemudian setelah
larutan didinginkan dan ditetesi dengan lrutan buffer asetat dengan pH 4,7
sebanyak 1 ml, larutan bersifat heterogen atau tudak menyatu.
Pada
percobaan kedua dengan menggunakan zat tambahan berupa basa kuat (NaOH) dengan
konsentrasi 0,1 M sebanyak 1 ml pada berbagai larutan albumin. Penambahan basa
kuat berupa NaOH menyebabkan perubahan bentuk molekul protein karena konsentrasi
OH- yang tinggi mampu menjadi ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3.
C. Larutan Telur + Buffer Asetat pH
4,7
Pada
percobaan ketiga dengan menggunakan bahan berupa larutan buffer asetat dengan
pH 4,7 sebanyak 1 ml pada larutan albumin tanpa adanya perubahan zat kimia
selain buffer asetat seperti pada percobaan 1 dan percobaan 2. Adapun pada
hasil pengamatan diketahui bahwa pada penambahan buffer asetat sebelum
dipanaskan, semua bahan albumin mengalami perubahan yang berbeda dan dapat
dilihat sebagai berikut:
1.
Telur Puyuh + Buffer Asetat ph 4,7
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur puyuh yang ditetes dengan
larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan berwarna
putih kekuningan, terdapat sedikit gumpalan dan terdenaturasi secara tidak
sempurna. Sedangkan setelah larutan dipanaskan selama 10 menit menggunakan
waterbad maka terjadi perubahan warna pada larutan yaitu menjadi putih susu dan
berbuih. Hal ni menunjukan bahwa pada larutan mengalami denaturasi yang
sempurna.
2.
Telur Itik Pantai + Buffer Asetat pH 4,7
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur itik pantai yang ditetesi
dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebnyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan
berwarna putih keruh dan terdenaturasi secara tidak sempurna. Sedangkan setelah
larutan dipanaskan selama 10 menit menggunakan waterbad maka terjadi perubahan
warna pada larutan yaitu menjadi putih susu. Hal ini menunjukan bahwa pada
larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
3.
Telur penyu + Buffer Asetat pH 4,7
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur penyu yang ditetesi dengan
larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml. Sebelum di panaskan larutan
berwarna putih keruh, terdapat gumpalan, dan mengalami denaturasi tidak
sempurna. Setelah larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat
berupa waterbad maka warna pada larutan tetap putih keruh, tetapi gumpalannya
berada diatas.hal ini menunjukan bahwa larutan mengalami denaturasi yang
sempurna.
4.
Telur Itik Tambak + Buffer Asetat pH 4,7
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telut itik tambak yang ditetesi
dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml, sebelum dipanaskan larutan
berwarna bening keruh, terdapat sedikit gumpalan, dan mengalami denaturasi yang
tidak sempurna. Setelah larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan
alat berupa waterbad maka terjadi perubahan pada larutan yaitu warnanya berubah
menjadi putih susu dan mengalami denaturasi yang tidak sempurna.
5.
Telur Ayam Kampung + Buffer Asetat pH 4,7
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan telur ayam kampung yang ditetesi
dengan larutan buffer asetat pH 4,7 sebanyak 1 ml. Sebelum dipanaskan, larutan
mengalami penggumpalan dan terdenaturasi secara tidak sempurna. Namun, setelah
larutan dipanaskan selama 10 menit dengan menggunakan alat berupa waterbad maka larutan mengalami proses denaturasi
sempurna.
Pada
percobaan ketiga dengan menggunakan larutan tambahan berupa asam lemah yaitu
buffer asetat yang berfungsi untuk mengetahui apakah suatu larutan
terdenaturasi secara sempurna atau tidak, yang dengan cara melihat gumpalan
(koagulasi) yang terjdi semakin merata gumpalan yang terjadi, menandakan bahwa
larutan mengalami denaturasi yang sempurna.
Berdasarkan
hasil percobaan yang dilakukan, maka proses denaturasi kadang-kadang dapat
berlangsung secara reversible, dan kadang-kadang tidak. Penggumpalan protein
biasanya didahului oleh proses denaturasi yang berlangsung dengan baik pada
titik isolistrik protein tersebut. Protein akan mengalami koagulasi apabila
larutan protein berbeda pada titik isolistiknya, Pada albumin telur , pH
isolistriknya berkisar antara 4,55-4.90.
Molekul
yang besar atau molekul yang makro apabila dilarutkan dalam air mempunyai sifat
koloid, yaitu tidak dapat menembus membrane atau kertas perkamen, tetapi tidak
cukup besar sehingga tidak dapat mengendap secara alami. Protein mempunyai
molekul besar dan karenanya larutan protein bersifat koloid. Disamping itu,
protein juga sensitive terhadap asam dan basa dengan konsentrasi yang tinggi,
seperti halnya yang digunakan dalam prcobaan yaitu HCl, NaOH, dan buffer
asetat.
Terjadinya
denaturasi pada larutan albumin dalam percobaan disebabkan pleh beberapa
faktor, yaitu:
1. suhu tinggi, yang diakibatkan oleh pemanasan.
2. Suasana larutan (asam/basa), yaitu terjadinya
perubahan ph.
3. Adanya pengaruh mekanik, seperti guncangan.
Faktor-faktor
itulah yang membuat larutan albumin terdenaturasi. Sedangan pada tubuh kita,
enzim adalah suatu protein yang mempunyai aktivtas biokimia yang dipengaruhi
oleh suhu dan ph. Apabila ada ion-ion logam berat masuk kedalam tubuh, maka
akan bereaksi dengan protein dan adan terjadi gumpalan (koagulasi) yang
menyebabkan keracunan.
VI. KESIMPULAN
1.
Denaturasi protein adalah suatu
perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, terseir dan kuarterner
molekul protein tanpa terjadinya pemecahan-pemecahan ikatan kovalen. Karena itu
denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi
hidropobik, ikatan garam dan terbentuknya atau terbukanya lipatan molekul
protein.
2.
Denaturasi dapat disebabkan karena
adanya pengaruh atau perubahan pH, suhu, soven organic, garam mekanik, alcohol,
aseton, ion logam berat, radiasi sinar radio aktif, eter dan oksigen.
3.
Pemanasan menyebabkan perubahan fisik
protein dengan terbentuknya gumpalan yang menyebabkan juga kehilangan sifat/
fungsi sebagai protein.
4.
Dari kelima larutan albumin yang
digunakan, hamper terdenaturasi sempurna ketika dipanaskan.
5.
Penyebab larutan albumin yang mengalami
denaturasi tidak sempurna adalah karena tingkat kandungan albumin yang terdapat
dalam larutan tersebut.
6.
Denaturasi protein yang terjadi di dalam
tubuh dapat mengakibatkan berkurangnya aktivitas biokimia protein dalam tubuh
dan dapat menyebabkan tubuh mengalami keracunan.
VII.
DAFTAR PUSTAKA
Arbianto, Purwo.1993. Biokimia Konsep-Konsep Dasar. Bandung: Depdikbud.
Noorhidayati dan Hardiansyah.2014. Penuntun Praktikum Biokimia.
Banjarmasin: FKIP UNLAM.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.
LAMPIRAN
Jawaban
Pertannyaan:
1. Sifat
fisik protein yang mempengaruhi kelarutan dari protein dalam percobaan ini
adalah enaturasi dan viskositas. Denaturasi yang terjadi pada tiap larutan
berbeda satu dengan yang lainnya karena tergantung pada struktur protein yang
ada pada setiap larutan. Viskositas juga mempengaruhi yaitu dari segi jenis
protein yang digunakan.
2. Metode
lain yang digunakan untuk denaturasi protein adalah dengam melarutkan protein
dalam air. Di dalam air, m dan akan bermutan negative dalam suasana bprotein
yang larut akan membentuk ion yang bermuatan positif dalam suasana basa.
3. Perubahan
kimia yang berhubungan dengan denatures telur yaitu adanya perubahan struktur
dan konfigurasi protein.
