BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan aktivitas, baik yang
telah menjadi kebiasaan
seperti berdiri, berjalan, makan dan sebagainya atau yang hanya dilakukan
sewaktu-waktu. Untuk melakukan aktivitas itu kita memerlukan makan. Pada
umumnya bahan makanan itu mengandung tiga kelompok utama senyawa kimia yaitu
karbohidrat, protein dan lemak atau lipid.
Di Indonesia bahan makanan pokok ini biasa dikonsumsi adalah
beras, jagung, sagu dan kadang-kadang juga singkong atau ubi. Bahan makanan ini
berasal dari tumbuhan dan sebagian besar senyawa yang terkandung di dalamnya
adalah karbohidrat, yang terdapat sebagai pati dan amilum. Selain itu
karbohidrat juga mengandung gula. Di dalam tubuh, karbohidrat yang berasal dari
makanan akan mengalami perubahan atau metabolisme.
Secara umum karbohidrat
merupakan kelompok senyawa yang
mengandung unsur karbon, hydrogen, dan
oksigen. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O,
misalnya rumus C6H12O6 (enam kali CH2O). Sedangkan secara biokimia karbohidrat adalah
polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan
senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis (Lehninger,
A.L,1997: 313).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan karbohidrat?
2. Bagaimanakah penggolongan karbohidrat dan
contohnya?
3. Bagaimanakah rumus bangun monosakarida dan
disakarida?
4. Bagaimana perbedakan ikatan α glikosida
dengan β glikosida?
5. Bagaimana struktur amilum dan selulosa?
6. Bagaimana sifat-sifat dari karbohidrat?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui pengertian dari karbohidrat.
2. Untuk mengetahui penggolongan
karbohidrat beserta contohnya.
3. Untuk mengetahui rumus bangun monosakarida
dan disakarida.
4. Untuk mengetahui perbedakan
ikatan α glikosida dengan β glikosida.
5. Untuk mengetahui struktur amilum dan selulosa.
6. untuk mengetahui sifat-sifat dari karbohidrat.
1.4
Metode Penulisan
Dalam menulis
makalah ini metode yang digunakan adalah metode kepustakaan, yaitu dalam
pengumpulan data serta bahan-bahannya, penulis mendapatkannya melalui referensi
dari buku maupun internet.
BAB II
KARBOHIDRAT
2.1 Pengertian Karbohidrat
|
Gambar 1.1 Sumber
Karbohidrat
|
Golongan karbohidrat merupakan salah satu golongan
utama bahan organik yang terdapat dialam. Karbohidrat terdapat di semua bagian
bahan sel baik sebagai komponen struktur maupun komponen berfungsi. Bobot
kering tumbuh-tumbuhan secara khas terrdiri atas 50-80 persen karbohidrat
polimer selulosa bersama dengan bahan struktur sejenis. Selain itu karbohidrat
juga merupakan tulang punggumg strutur asam nukleat, RNA dan DNA, serta
merupakan gula yang memberikan cadangan energi yang diperoleh dari matahari
melalui sintesis (Stanley H. Pane,1988: 810).
Secara umum karbohidrat
merupakan kelompok senyawa yang
mengandung unsur karbon, hydrogen, dan
oksigen. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O,
misalnya rumus C6H12O6 (enam kali CH2O). Senyawa
ini pernah disangka hidrat dari karbon sehingga disebut karbohidrat. Akan
tetapi, pada tahun 1880-an disadari bahwa gagasan hidrat dari karbon mrupakan
gagasan yang salah dan karbohidrat sebenarnya adalah polihidroksi aldehida dan
keton atau turunannya (Ralf-Joan
Fessenden,1989, 318).
Dengan demikian, secara biokimia karbohidrat adalah
polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan
senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis (Lehninger,
A.L,1997: 313).
Karbohidrat berfungsi sebagai sumber utama bagi bagi
energi metabolit untuk organisasi hidup serta berfungsi sebagai bentuk energi
polimerik. Selain itu karbohidrat juga merupakan komponenen dari unsur-unsur
structural sel dan merupakan bagian dari asam nukleat (Purwo Arbianto,1993: 32)
Adapun fungsi
utama karbohidrat dalam tubuh manusia yaitu sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (contoh: pati pada
tumbuhan dan glikogen pada
hewan), dan materi pembangun (contoh: selulosa pada tumbuhan, kistin pada hewan dan jamur). Dengan demikian karbohidrat memiliki kegunaan
yang fungsional (Reece-Mitchell,2002: 65).
2.2 Penggolongan Karbohidrat
Karbohidrat yang penting dalam ilmu
gizi dibagi dalam dua golongan, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat
kompleks.
Karbohidrat
sederhana yaitu karbohidrat yang hanya terdiri dari satu atau dua unit gula sederhana di dalam satu
molekul. Sedangkan Karbohidrat kompleks mempunyai lebih dari dua unit gula
sederhana di dalam satu molekul. Karbohidrat kompleks biasanya dapat ditemukan dalam roti,
sayuran, dan sereal. Contoh makanan yang mengandung karbohidrat kompleks termasuk bayam, ubi jalar,
brokoli, buncis, zucchini, lentil, susu skim, biji-bijian dan banyak tanaman polongan dan sayuran lainnya.
Karbohidrat kompleks memiliki nilai gizi
yang lebih tinggi daripada karbohidrat sederhana. Mungkin agak membingungkan
untuk membedakan karbohidrat sederhana dan kompleks karena fakta bahwa
karbohidrat kompleks pun mengandung unsur tertentu yang sederhana. Namun
demikian, membedakan keduanya seharusnya tidak menjadi masalah karena struktur
kimianya sangat berbeda, dan karena itu, mereka dapat dibedakan oleh sifat gizi
mereka.
Berdasarkan jumlah molekulnya karbohidrat
dibagi dalam 4 kelompok, yaitu:
A. Monosakarida
Monosakarida
atau yang sering disebut gula sederhana merupakan satuan karbohidrat
sederhana dan tidak dapat dihidrolisis
menjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil.
Akan tetapi, monosakarida dapat diikat secara bersama-bersama untuk
membentuk dimer, trimer, dan sebagainnya dan akhirnya polimer.Dimer-dimer
inilah yang biasanya disebut disakarida (Ralf-Joan Fessenden,1989, 318).
Monosakarida terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak
dapat lagi dihidrolisis oleh larutan asam dalam air menjadi karbohidrat yang
lebih sederhana.
Monosakarida dibedakan menjadi 2,
yaitu sebagai berikut:
1. Aldosa
Aldosa merupakan monosakarida yang
mengandung gugus aldehida.
Contoh
dari aldosa, yaitu:
a. Glukosa
Glukosa merupakan monosakarida yang
terpenting. Sering disebut dengan gula darah karena terdapat di dalam darah,
gula anggur karena juga terdapat di dalam anggur, dan yang terakhir biasa
dikenal dengan istilah dekstrosa karena memutar bidang polarisasi kekanan (Ralf-Joan Fessenden,1989, 319).
Gluktosa banyak dijumpai di alam seperti
halnya pada buah-buahan, sayur-sayuran, madu, sirup jagung dan tetes tebu. Di
dalam tubuh glukosa didapat dari hasil akhir pencernaan amilum, sukrosa,
maltosa, dan laktosa.
b.
Galaktosa
Galaktosa merupakan suatu aldoheksosa.
Monosakarida ini jarang terdapat bebas di alam. Umumnya berikatan dengan
glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa
mempunyai rasa kurang manis jika dibandingkan dengan glukosa dan kurang larut
dalam air. Seperti halnya glukosa, galaktosa juga merupakan gula pereduksi.
2. Ketosa
Ketosa
yaitu monosakarida dengan gugus keton. Contoh dari ketosa, yaitu:
a. Fruktosa
Fruktosa
adalah suatu heksulosa, disebut juga levulosa karena memutar bidang polarisasi
ke kiri. Merupakan satu-satunya heksulosa yang terdapat di alam. Fruktosa
merupakan gula termanis, terdapat dalam madu dan buah-buahan bersama glukosa.
Fruktosa
dapat terbentuk dari hidrolisis suatu disakarida yang disebut sukrosa. Sama
seperti glukosa, fruktosa adalah suatu gula pereduksi.
B.
Disakarida
Disakarida
adalah suatu karbohidrat yang tersusun dari dua satuan monosakarida yang
dipersatukan oleh suatu hubungan glikosida dari karbon 1 dari satu satuan ke
suatu OH satuan lain (Ralf-Joan
Fessenden,1989, 348).
Pada
bahan makanan disakarida terdapat 3 jenis yaitu:
1. Maltosa
Maltosa
mempunyai dua molekul monosakarida yang terdiri dari dua molekul glukosa. Di
dalam tubuh maltosa di dapat dari hasil pemecahan amilum, lebih mudah dicerna
dan rasanya lebih enak dan nikmat. Disakarida ini tak ditemukan di alam kecuali
pada kecambah padi-padian (Ralf-Joan
Fessenden,1989, 351).
2. Sukrosa
Sukrosa terdapat dalam
gula tebu dan gula bit. Dalam kehidupan sehari-hari sukrosa dikenal dengan gula
pasir. Sukrosa tersusun oleh molekul glukosa dan fruktosa yang dihubungkan oleh
ikatan 1,2 –α.
Sukrosa terhidrolisis oleh enzim invertase
menghasilkan α-D-glukosa dan β-D-fruktosa. Campuran gula ini disebut gula
inversi, lebih manis daripada sukrosa.
3. Selobiosa
Selobiosa
merupakan disakarida yang diperoleh dari hidrolisis parsial dari selulosa.
Seperti maltosa, selobiosa tersusun dari dua satuan glukopiranosa yang digabung
oleh suatu ikatan-1,4’ (Ralf-Joan
Fessenden,1989, 350).
4. Laktosa
Laktosa
merupakan suatu disakarida alamiah yang dijumpai hanya pada binatang menyusui.
Air susu sapi dan manusia mengandung kira-kira 5% laktosa . laktosa diperoleh
secara komersial sebagai hasil samping pabrik keju.
Laktosa atau
gula susu berbeda dari maltosa atau selobiosa dalam hal laktosa terdiri dari dua
monosakarida yang berlainan yaitu D-glukosa dan D-galaktosa (Ralf-Joan Fessenden,1989, 351).
C.
Oligosakarida
Oligosakarida
merupakan gabungan dari molekul-molekul monosakarida yang jumlahnya antara 2
(dua) sampai dengan 8 (delapan) molekul monosakarida. Sehingga oligosakarida
dapat berupa disakarida, trisakarida dan lainnya. Oligosakarida secara
eksperimen banyak dihasilkan dari proses hidrolisa polisakarida dan hanya
beberapa oligosakarida yang secara alami terdapat di alam. Oligosakarida yang
paling banyak digunakan dan terdapat di alam adalah bentuk disakarida seperti
maltosa, laktosa dan sukrosa.
D. Polisakarida
Polisakarida
adalah senyawa dimana molekul-molekulnya mengandung banyak satuan monosakarida
yang dipersatukan dengan ikatan glukosida. Hidrolisis lengkap akan mengubah
suatu polisakarida menjadi monosakarida. Polisakarida memenuhi tiga unsur
penting dalam sistem kehidupan,yaitu sebagai bahan bangunan, bahan makanan, dan
sebagai zat spesifik (Ralf-Joan
Fessenden,1989, 352).
Jenis polisakarida, yaitu:
1. Selulosa
Selulosa
merupakan senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Selulosa merupakan
polimer yang tidak bercabang , terbentuk dari β-D-glukosa yang terikat bersama
dengan ikatan β-glikosidik (Purwo Arbianto,1993: 42).
Hampir 50% karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan adalah
selulosa, selulosa
merupakan bagian terpenting dari dinding seltumbuh-tumbuhan. Selulosa tidak
dapat dicerna oleh tubuh manusia, karena
tidak ada enzim untuk memecah selulosa. Meskipun tidak dapat dicerna,selulosa
berfungsi sebagai sumber serat yang dapat memperbesar volume dari faeses,
sehingga akan memperlancar defekasi.
2. Kitin
Kitin adalah
polisakarida yang structural ekstrseluler yang ditemukan dalam jumlah besar
pada kutikula artopoda dan dalam jumlah kecil ditemukan dalam spons, molusca,
dan anelida. Polisakaridanya merupakan rantai tak bercabang dari polimer asetil-glokosamin
dan terdiri atas ribuan unit (Purwo Arbianto,1993: 43).
3. Inulin
Inulin
merupakan nutrient polisakarida tak bercabang yang ditemukan dalam artickhokes
dan dandelion tumbuhan (Purwo Arbianto,1993: 44).
4. Glikogen
Glikogen merupakan
"pati hewani", terbentuk dari ikatan 1000 molekul, larut di dalam air (pati nabati
tidak larut dalam air) bila bereaksi dengan yodium akan menghasilkan warna
merah. Sumber : kecambah, serealia, susu, syrup jagung (26%). Glikogen terdapat
pada otot hewan, manusia dan ikan. Glikogen disimpan di dalam hati dan otot
sebagai cadangan energi, yang sewaktu-waktu dapat diubah kembali menjadi
glukosa bila dibutuhkan.
5. Amilum (Pati)
Pati adalah nutrien polisakarida yang
ditemukan dalam sel tumbuhan dan beberapa mikroorganisme. Pati selalu terdapat
dalam sel tumbuhan dalam bentuk granula. Granula pati mengandung campuran dari
dua polisakarida yang berbeda yaitu amilosa dan amilopektin. Pati merupakan polimer α-D-glukosa dengan ikatan α (1-4).
Kandungan glukosa pada pati bisa mencapai 4000 unit. Ada 2 macam amilum yaitu
amilosa (pati berpolimer lurus) dan amilopektin (pati berpolimer
bercabang-cabang). Sebagian besar pati merupakan amilopektin (Purwo
Arbianto,1993: 44).
2.3 Rumus Bangun Monosakarida dan
Disakarida
A.
Monosakarida
|
Gambar.1.2 Fruktosa
|
Monosakarida dapat dikelompokkan berdasarkan
jumlah atom karbon (atau jumlah x) yang terkandung: diosa (2) triosa (3) tetrosa (4), pentosa (5), heksosa (6), heptosa (7), dan
seterusnya.
B. Disakarida
Disakarida adalah karbohidrat yang
tersusun dari 2 molekul monosakarida, yang dihubungkan oleh ikatan glikosida.
Ikatan glikosida terbentuk antara atom C 1 suatu monosakarida dengan atom O
dari OH monosakarida lain. Hidrolisis 1 mol disakarida akan menghasilkan 2 mol
monosakarida.
1. Maltosa
Maltosa tersusun dari molekul α-D-glukosa dan
β-D-glukosa.
|
Gambar
1.3 Struktur Maltosa
|
Dari
struktur maltosa, terlihat bahwa gugus -O- sebagai penghubung antar unit yaitu
menghubungkan C 1 dari α-D-glukosa dengan C 4 dari β-D-glukosa. Konfigurasi
ikatan glikosida pada maltose selalu α karena maltose terhidrolisis oleh
α-glukosidase. Satu molekul maltose terhidrolisis menjadi dua molekul glukosa.
2. Sukrosa
Sukrosa tersusun oleh molekul glukosa
dan fruktosayang dihubungkan oleh ikatan 1,2-α
|
Gambar
1.4 Struktur sukrosa
|
Sukrosa terhidrolisis oleh
enzim invertase menghasilkan α-D-glukosa dan β-D-fruktosa. Campuran gula ini disebut
gula inversi, lebih manis daripada sukrosa.
Jika kita perhatikan strukturnya,
karbon anomerik (karbon karbonil dalam monosakarida) dari glukosa maupun fruktosa
di dalam air tidak digunakan untuk berikatan sehingga keduanya tidak memiliki gugus
hemiasetal.
Akibatnya, sukrosa dalam
air tidak berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehid atau keton sehingga sukrosa
tidak dapat dioksidasi. Sukrosa bukan merupakan gula pereduksi.
3. Laktosa
Laktosa tersusun dari molekul
β-D-galaktosa dan α-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4'-β.
Gambar 1.5 Strukrur Laktosa
Hidrolisis
dari laktosa dengan bantuan enzim galaktase yang dihasilkan dari pencernaan,
akan memberikan jumlah ekivalen yang sama dari α-D-glukosa dan β-D-galaktosa.
Apa bila enzim ini kurang atau terganggu, bayi tidak dapat mencernakan susu.
Keadaan ini dikenal dengan penyakit galaktosemia yang biasa menyerang bayi.
2.4 Perbedakan
Ikatan α Glikosida dengan β Glikosida
Glikosida
merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam kelompok
metabolit sekunder. Di dalam tanaman glikosida tidak lagi diubah menjadi
senyawa lain, kecuali bila memang mengalami peruraian akibat pengaruh
lingkungan luar (misalnya terkena panas dan teroksidasi udara).
Glikosida adalah
senyawa yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula dan bukan
gula. Keduanya dihubungkan oleh suatu bentuk ikatan berupa jembatan oksigen (O
–glikosida,dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine), jembatan
sulfur (S-glikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (C-glikosida,
barbaloin).
Glikosida sering diberi nama sesuai
bagian gula yang menempel didalamnya dengan menambahkan kata oksida. Sebagai
contoh, glikosida yang mengandung glukosa disebut glukosida, yang mengandung
arabinosa disebut arabinosida, yang mengandung
galakturonat disebut galakturonosida, dan seterusnya.Gula yang sering
menempel pada glikosida adalah β-D-glukosa.
Ikatan glikosida terjadi dari kondensasi gugus hidroksil dua molekul
monosakarida, yaitu berasal dari gugus hidroksil dari atom karbon
yang pertama dengan salah satu gugus hidroksil pada atom karbon nomor 2, 4,
atau 6, yang berasal dari monosakarida yang kedua.
Kita ambil contoh bagaimana sebuah α–D–Glukosa dan β–D–Glukosa membentuk
disakarida, Pada kedua molekul ini ikatan glikosida
atom karbon nomor 1 dari α- D-glukosa dan atom karbon nomor 4 dari β-D-glukosa
lain. Ikatan yang terbentuk dinamakan ikatan 1- 4 glikosida. Secara umum reaksi
ini
dapat digambarkan dengan sederhana dengan pola reaksi berikut ini:
|
Gambar 1.6 Ikatan
glikosida pada molekul maltosa
|
Disakarida yang banyak terdapat di alam seperti maltosa yang terbentuk
dari 2 molekul glukosa melalui ikatan glikosida. Pada maltosa, jembatan oksigen
terbentuk antara atom karbon nomor 1 dari D-glukosa dan atom karbon nomor 4
dari D-glukosa lain. Ikatan yang terbentuk dinamakan ikatan α (1→4) glikosida,
secara lengkap dinyatakan dengan β-D-glukopiranosil (1→4)E-D-glukopiranosa.
Dalam bentuk sederhana Glc(α1↔4β)Glc, perhatikan lagi Bagan 14.12. Maltosa
diperoleh dari hasil hidrolisa pati dan banyak dimanfaatkan sebagai pemanis.
Sukrosa (gula pasir) terbentuk dari satu molekul α-D-glukosa dan
β-D-fruktosa, yaitu β-D-fruktofuranosil (2→1) α-D-glukopiranosa atau
Fru(α2↔1β)Glc.
|
Gambar 1.7 Ikatan glikosida pada molekul sukrosa
|
Laktosa yang terfermentasi akan berubah menjadi asam laktat. Dalam tubuh
Laktosa dapat menstimulasi penyerapan kalsium. Molekul ini tersusun dari satu
molekul D-glukosa dan satu molekul D-galaktosa melalui ikatan β(1→4)
glikosidik.
|
Gambar 1.7 Ikatan
glikosida pada molekul laktosa
|
2.5
Struktur Amilum dan Selulosa
A. Struktur Amilum
|
Gambar 1. Struktur
Amilum
|
|
Gambar 1.8
Struktur Amilum
|
B. Struktur Selulosa
|
Gambar 1.9 Struktur
Selulosa
|
2.6 Sifat-Sifat Karbohidrat
Pada umumnya, karbohidrat berupa serbuk putih yang mempunyai sifat sukar larut dalam pelarut nonpolar tetapi mudah larut dalam air kecuali, polisakarida bersifat tidak larut dalam air.
Pada umumnya, karbohidrat berupa serbuk putih yang mempunyai sifat sukar larut dalam pelarut nonpolar tetapi mudah larut dalam air kecuali, polisakarida bersifat tidak larut dalam air.
Amilum dengan air dingin akan
membentuk suspensi dan bila dipanaskan akan membentuk pembesaran berupa pasta
dan bila didinginkan akan membentuk koloid yang kental semacam gel. Suspensi
amilum akan memberikan warna biru dengan larutan iodium. Hal ini dapat
digunakan untuk mengidentifikasikan adanya amilum dalam suatu bahan. Hidrolisis
sempurna amilum oleh asam atau enzim akan menhasilkan glukosa.
Glikogen mempunyai struktur
empiris yang serupa dengan amilum pada pertumbuhan. Pada proses hidrolisis,
glikogen menghasilkan pula glukosa karena, baik amilum maupun glikogen,
tersusun dari sejumlah satuan glukosa. Glokogen dalam air akan membentuk koloid
dan memberikan warna merah dengan larutan iodium. Pembentukan glikogen dari
glukosa dalam sel tubuh diatur oleh hormon insulin dan prosesnya disebut
glycogenesis. Sebaiknya, proses hidrolisis glikogen menjadi glukosa disebut
glycogenolysis.
Semua jenis karbohidrat, baik
monosakarida, disakarida, maupun polisakarida akan berwarna merah-ungu bila
larutannya dicampur beberapa tetes α-naftol dalam alkohol dan ditambahkan asam
sulfat pekat, sehingga tidak bercampur. Warna ungu akan tampak pada di bidang
batas antara kedua cairan. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif
adanya karbohidrat dalam suatu bahan dan dikenal degan uji molisch.
Monosakarisa dan disakarida
memiliki rasa manis, sehingga sering disebut gula. Rasa manis dari gula
disebabkan oleh gugus hidroksilnya. Kebanyakan monosakarida dan disakarida,
kecuali sukrosa, adalah gula pereduksi. Sifat mereduksi disebabkan adanya gugus
aldehida atau keton bebas dalam molekulnya. Larutan gula bereaksi positif
dengan pereaksi Fehling, pereaksi Tollens, maupun pereaksi benedict.
Sebaliknya, kebanyakan polisakarida adalah gula nonpereduksi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Secara
umum karbohidrat merupakan kelompok
senyawa yang mengandung unsur karbon, hidrogen,
dan oksigen. Secara biokimia karbohidrat adalah
polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan
senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis
b. Berdasarkan jumlah molekulnya karbohidrat dibagi dalam
4 kelompok, yaitu monosakarida,
disakarida, oligosakarida dan polisakarida.
c. Monosakarida mempunyai rumus kimia umum Cx(H2O)y,
dimana x minimal 3. Disakarida adalah karbohidrat yang tersusun
dari 2 molekul monosakarida, yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. Ikatan
glikosida terbentuk antara atom C 1 suatu monosakarida dengan atom O dari OH
monosakarida lain.
d. Glikosida
adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula dan
bukan gula. Keduanya dihubungkan oleh suatu bentuk ikatan berupa jembatan
oksigen (O –glikosida,dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine),
jembatan sulfur (S-glikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (C-glikosida,
barbaloin).
e. Struktur amilum dan struktur
selolusa
|
Struktur Amilum
|
|
Struktur Selolusa
|
f. Karbohidrat berupa serbuk putih yang mempunyai
sifat sukar larut dalam pelarut nonpolar tetapi mudah larut dalam air kecuali,
polisakarida bersifat tidak larut dalam air.
3.2 Saran
Penulis
mengharapkan makalah ini dapat memberi manfaat dan ilmu kepada para pembaca.
Dan di sarankan kepada para pembaca untuk mencari referensi yang lebih banyak,
baik dari sosial media atau pun dari media yang lain seperti buku.
DAFTAR PUSTAKA
Arbianto,
Purwo. 1993. Biokimia Konsep-konsep Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Fessenden,
Ralf & Joan Fessenden. 1989. Kimia Organik edisi ketiga jilid 2.
Jakarta: Erlangga
Maggy,
Then Awijaya Lehningger. 1992. Dasar-Dasar
Biokimia. Jakarta: Erlangga
Poedjadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UIP
Poedjadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UIP
Pane, Stanley H. 1988. Kimia
Organik 2. Bndung: ITB
Poedjiadi,
Anna & F.M Titin Sufriyanti. 2009. Dasar-Dasar
Biokimia. Jakarta: UI-Press
Reece-Mitchell.
2002. Campbell. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar